tersederhana, disebut keyakinan

Aku percaya yang aku mampu.
Melupakan semua kisah silam
Yang terlalu pahit untuk disimpan,
Yang terlalu sedih untuk ditangisi,
Dan terlalu jahil untuk diakui.
Walaupun tersimpan di ruang paling dalam,
Walaupun kerapkali menerjah di ingatan,
Segera aku berbisik.
Bahawa aku yakin!
Aku percaya Allah akan membantuku,
Menyembuhkanku perlahan-
lahan,
Hingga tidak sedikitpun hati ini terkesan pada luka-luka semalam.
Hingga jiwa sedikitpun tak tergugat pada kata-kata orang,
Agar bibir mudah tersenyum secerah mentari di waktu siang,
Agar hati lebih tenang seterang bintang di waktu malam.
Agar hati mudah berpihak pada PENCIPTA.
Aku yakin begitu.

(penulisbuta)

image

https://mobile.twitter.com/puszarista

Pecutan Sang Guru

image

Pagi itu kelas pertama ku di semester empat. Aku yang dari awal masuk psikologi sudah terdoktrin oleh mamaku untuk mengambil majoring Psikologi Industri pun akhirnya mengambil peminatan psikologi industri dan organisasi. Mata kuliah PIO yang pertama aku ambil adalah Teori Organisasi. Aku pun ingat betul, banyak kakak tingkatku yang akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil majoring PIO atau bahkan pindah peminatan karena satu alasan,

“Dosen-dosennya killer” kata mereka. Tapi disitu aku malah penasaran. Apa yang membuat mereka sebegitu takutnya. Sejenis monster kah yang mengajar di  PIO? Atau seperti masuk ke dalam gua yang gelap gulita kah sampai banyak dari anak majoring PIO yang susah lulusnya?  

Aku hanya anak baru dan pernah beberapa kali mengambil mata kuliah PIO dasar dan asas-asas Menejemen, dan dosen-dosen yang mengajarkan mata kuliah itu semuanya menurutku baik. Singkatnya dalam pandanganku semua dosen psikologi menenangkan hati. Tidak ada satu dari mereka yang terlihat seperti “pembunuh”. Sampai aku bertemu dengan sosok Pak Ino di kelas TO. Ooo…jadi ini yang semua orang ceritakan. Jadi bapak ini yang dinilai banyak anak sebagai singa di dalam hutan PIO.

Beliau orang yang mudah untuk di deskripsikan. Mudah saja aku tebak kalau dia keturunan Tionghoa dengan badan agak besar, mata sipit, berkaca mata, dan selalu ada rokok ditangan kanannya. Terlihat sekali bahwa dia orang yang keras dari cara ia memandang dan melontarkan pendapatnya. Interaksi pertamaku adalah saat aku masuk kelas Teori Industri. Kelas yang digunakan itu adalah ruang sidang skripsi dengan disain tempat duduk berbentuk U. Di setiap semesternya tidak banyak anak yang mengambil mata kuliah itu. Paling banyak hanya sekitar 20 orang. Pertama aku masuk, Pak Ino membacakan absensi satu persatu dan selalu memberikan komentar pada tiap anak yang dipanggilnya. Komentarnya banyak yang lucu, banyak juga yang vulgar

“kamu kalo nganggur dikos ngapain aja, Ki? Ngga main ke Doli ta?”. Saat Pak Ino memanggil salah satu anak yang berbadan agak seksi. Sontak sekelas itu langsung tertawa.  

“kamu sudah pernah ciuman berapa kali? kalo pacaran belum pernah ciuman wes putus ae, golek maneh” (kalau belum pernah ciuman lebih baik putus aja, cari lagi)”. Candaan lain yang ia lontarkan ke anak lainnya.

Ya..  komentar-komentar beliau yang mengejutkan itu yang membuat aku agak taku dan deg-degan, komentar apa yang akan beliau keluarkan saat memanggil namaku.

“Ngapain kamu ko mukamu kayanya takut sekali, saya ngga gigit ko cuma ya hati-hati saja” komentar itu keluar saat ia melihatku sambil tersenyum dan tertawa khasnya Pak Ino (ah senyum khas beliau ini yang selalu membuat aku menitikkan air mata sampai sekarang). Sejak saat itu aku janji pada diri sendiri untuk lebih berani, aktif dan banyak membaca agar bapak nggak menilai saya sebagai penakut lagi. Selesai membacakan absen, Pak Ino dengan tegas mengatakan bahwa di kelas ini tidak ada power point dan jangan harap kamu hanya membaca power point saat ujian nanti.

“Kalian ini mau jadi calon Psikolog, iku abot lho jenengmu (nama kalian itu jadi berat). jangan sampai lulusan Unair Cuma jadi sarjana Power point.”

Dan benar saja, di kelas itu aku tidak pernah sekali pun membaca power point atau membacanya saat mau ujian. Menurut beliau sarjana itu bacaannya buku, jurnal penelitian dan kami harus membiasakan diri untuk membaca buku-buku bahasa inggris yang tebalnya melebihi  novel Harry Potter ke lima. Pak Ino juga menjadwalkan kuis lisan setiap minggunya dan apabila dalam satu semester itu tidak lulus kuis sebanyak 3 kali maka anak tersebut dinyatakan tidak lulus dalam mata kuliah itu. Tidak tanggung-tanggung, materi untuk kuis bisa 2 sampai 4 chapter berbahasa Inggris. Sampai mengulang mata kuliahnya Pak Ino 2 sampai 4 kali pun menjadi hal yang lumrah. Kata beliau membaca buku bahasa Inggris membiasakan kita kalau nanti kuliah di luar negri, jadi sudah ngga gelegapan jadi ngga dibodohin terus. Pak Ino juga sering bercerita pengalamannya dulu sewaktu kuliah di Amerika. Anak-anak disana semuanya gemar baca buku, di taman, di perpustakaan, bahkan sambil makan siang mereka pun membaca. Tapi beda dengan yang beliau lihat disini, anak-anak Indonesia katanya kurang semangatnya untuk membaca. Contohnya saja anak kuliah.

“Coba berapa buku yang habis kamu baca sampai kamu lulus jadi sarjana?” ia bertanya satu per satu ke setiap anak. Banyak dari kami hanya menjawab 4 sampai 6 buku dan paling banyak mungkin hanya 10. Hal ini yang membuat ia sangat gregetan.
“Kalau ngga baca, kalian itu akan dibodohi terus rek sama orang luar dan bisa jadi budak di negri sendiri “ kata beliau.

Semangat belajar dan membaca ini lah yang terus ia tanamkan ke semua anak mahasiswanya. Dengan cara lembut, keras, kadang sampai memaki-maki. Itu semua ia lakukan karena ia terlalu ingin anak-anaknya ngga bodoh. Bagi sebagian mahasiswa yang tidak suka caranya mungkin akan merasa kesal dengan peraturan-peraturan yang ia terapkan. Dengan cekokan beliau akan pentingnya membaca dan mengerti esesni apa yang terkandung di suatu bacaan. Belum lagi mengenai hukuman saat tidak bisa memecahkan pertanyaan beliau. Dan semua ini dilakukan tak lain hanya untuk kebaikan anak-anaknya semata.

“Minimal satu bulan itu kalian harus baca satu buku lah. Ngga malu kamu katanya sarjana tapi planga-plongo”

Dari situ aku mulai membiasakan diri untuk membeli satu buku per bulan sampai sekarang. Setidaknya membeli itu sudah terlaksanakan, semoga nantinya semua buku bisa dibaca sampai habis seperti kata Pak Ino.

Saat aku sudah menyelesaikan kuliahku, aku selalu ingat pesan dan kesan saat bersama beliau. Saat itu aku bahkan rindu omelan beliau, rindu saat ia tertawa lepas di kelas, di kantin, saat ia mengejek dengan caranya yang tak terduga bagiku. Pak Ino tidak hanya mendidik perkara membaca. Saat berdiskusi tak jarang ia memberikan siratan lewat komentarnya soal maraknya korupsi atau banyaknya profesor yang berijasah palsu.

“Mereka itu korupsi karena dulu lulusnya mbayar. Ndak punya integritas ko dipilih. Kamu jangan gitu lho dian”

Di lain hari saat kami sedang praktek MSDM, Pak Ino menyempatkan liat ke stand kami. Saat itu aku jualan sate kelinci. Disitu aku dihina abis-abisan oleh beliau. “Dian kamu motong daging aja ngga bisa, motong bawang ko gitu caranya. Coba saya lihat tangan kamu. Ko halus? Kamu pasti ngga bisa masak. Perempuan ko ngga bisa masak. Belajar sana!” aku hanya bisa ketawa-ketawa.

Dari Pak Ino lah aku belajar banyak hal. Pak Ino adalah guru terbesar yang pernah dimiliki kampus kami. Dengan hanya bertitle S2 tapi beliau seperti profesor bagi kami, beliau tidak pernah memusingkan untuk sekolah S3 dan menjadi profesor. Passionnya hanya mengajar. Ia tidak mau hanya mengejar title. Tidak mau melakukan penelitian untuk S3nya hanya demi kenaikan pagkat.

“Dan kalau saya kuliah nanti saya ngga ngajar, kalian nanti banyak yang lulus, hahaha” lagi-lagi tawa khasnya beliau.

Pak Ino bukan hanya mengajarkan tapi mendidik.

Sekarang raganya sudah tak bersama kita lagi. Selamat jalan sumber inspirasi, yang mengajarkan ku arti kedisiplinan, teguh pada prinsip hidup, dan jangan berhenti baca.

Semua orang sangat merasa kehilanganmu, tapi aku yakin semangat dan inspirasimu akan tetap mengalir.  

liberty


Buat apa kita bertanya tentang makna dari kebebasan kalau kita hanya diam dan tidak pernah melakukan sesuatu untuk kebebasan itu. Setiap langkah kita adalah tapak untuk sampai pada mimpi kita. Dengan apa kita bisa dapatkan semua mimpi selain dengan rasa bebas. Kebebasan adalah kunci dari segalanya. Eksistensi kita ada karena kebebasan. Pertahanan kita sampai saat ini didapat dari berpikir melalui kebebasan. Kata Socrates manusia ada karena berpikir. Pikirkan semua terlebih dahulu, atur langkah sebagai orang yang memiliki pengetahuan baik dan percayakan pada diri bahwa semuanya dapat kita raih. Ingatlah bahwa pikiran kita memegang peranan yang segnifikan. Ciptakan sesuatu yang pikiran kita yakin bahwa kita dapat melakukan itu. Hal apapun dapat kita raih. Pikiran kita memotivasi agar kita melakukan yang terbaik, tapi ingat bahwa berpikir adalah cabang dari kebebasan. Buat apa berpikir tentang macam-macam apabila kebebasan saja tidak ada. Dapatkan kebebasan manusia seutuhnya. Itu adalah hakiki.

tik tok…tik toook

mungkin rasa penyesalan itu tidak akan ada habisnya, apalagi melihat titik air itu jatuh dari mata sang idola. Tapi untuk apa, ini hanya tertundanya sebuah kemenangan. Ini bukan sebuah musibah atau penghalang bagi semua untuk tetap berkarya.  Ini juga bukan sebuah alasan untuk saling menuding salah siapa. Aku yakin mereka semua tidak sekedar mencari populaitas atau kejayaan, tapi mental juaralah yang harus dibangun. Sebuah perubahan harus terjadi. Hanya orang konvensional yang tidak ingin adanya perubahan. Dan aku yakin Samba akan berdansa pada waktunya

love my earth

MIND AND SOUL

Hari ini hari rabu, jam di kamarkupun menunjuk pada pukul delapan malam.  Yang ku rasakan saat ini adalah rasa lelah yang sepertinya tak berkesudahan. Slalu mengikutiku sampai tes akhir nanti tiba. Aku ingin beristirahat. Merebahkan tubuhku di tempatnya. Sepertinya tempat itu sudah memanggil namaku agar ku segera kesana. Kuputuskan untuk sesegera.

Sampai pada suatu tempat ku berada di tepi sungai. Aku ingin melihat ada apa disana. Dan aku duduk diatas sebuah batu besar. Tiba-tiba kulihat sesosok orang yang sepertinya sudah kukenal dari aliran sungai yang mengalir deras melewati kakiku. Aku ingat sesuatu. Mamaku pernah bilang orang itu adalah hasil dari pertemuannya dengan papaku. Dia lahir dari rahim mamaku. Orang tuaku memberi namanya Puspita Dian Arista. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh mama dan papaku. Dan sepertinya aku sudah ingat siapa dia.

Dia adalah aku. Ya aku… Tapi siapa aku? Apa sebenarnya aku ini? Mengapa aku ada?

Aku adalah satu manusia, aku adalah jiwa dan ragaku. Diciptakan Tuhan beserta kelebihan dan kekurangannya. Jiwaku adalah abstrak. Jiwaku yang mengatur hidupku. Dia bisa kemana saja asal dia mau, tak seperti ragaku. Ragaku adalah sesosok manusia yang dapat dirasakan keberadaannya dan dapat dilihat. More

obat bosanku

Rasa ini sudah aku rasakan untuk yang kesekian kalinya. Duniaku bukan disini, disini bukan tempatku dan aku tidak ingin berada disni. Ini seperti membentuk suatu siklus hidupku, down and up. Berputar seperti itu terus..terus dan terus dan sepertinya ini memang seharusnya.  Aku sudah jenuh disini.

Aku bisa melakukan banyak hal untuk melupakan rasa jenuhku, tapi seperti yang kubilang tadi akhirnya akan kembali pada titik dimana aku merasakan kejenuhan itu. Tapi aku punya obat untuk ini.

Aku ini roda. Aku punya jari-jari yang kuat dan bagus. Jari-jari inilah yang selalu mendukungku.  Jari-jari dimana aku bisa bercerita, mendengar  dan tertawa dalam rasa jenuh yang aku simpan. Aku menyebut mereka orang-orang terbaikku..sahabat

Ya, obat jenuhku ada pada tawa dan canda itu.

Mereka alasan mengapa aku bisa bertahan disini, bukan seperti yang lain yang mengharuskan untuk aku disini. Bersama mereka aku tidak menghiraukan rasa jenuh itu, bisa bernyanyi, berteriak, merenung, berpikir, bermimpi, melompat, berlari dan bahkan membuat dunia kami sendiri.

Salah seorang sahabatku bilang :

“Satu hal yang aku pelajari ketika kita ada di titik jenuh. Berangan-anganlah tentang hal yang paling kamu inginkan, pusatkan pikiranmu pada angan-angan itu, jangan pikirkan posisimu sekarang seperti apa atau bagaimana kau akan melakukannya. Tetaplah berpikir suatu hari nanti kamu pasti bisa mencapai apa yang kamu imajinasikan dan tersenyumlah.. J”

Aku bersyukur aku menemukan mereka..aku bertahan disini karena mimpi dan mereka

Nb:Already missing u..

FILMku, dunia liarku..

Film adalah duniaku. Menjadi pembuat film,  penikmat film bahkan memerankan suatu tokoh dalam beberapa film pernah aku lakukan. Semua ini berawal saat aku masih duduk di bangku SMA. Rasa kecintaan akan film mulai tumbuh dalam diriku. Mulai dari membuat film-film pendek yang menurutku konyol sampai film yang ku beranikan ikut dalam berbagai festival yang membuatku naik ke podium juara dan beberapa kali mengalahkan film pendek garapan sutradara-sutradara tekenal sekarang ini.

Lakukan apa yang kamu suka, teruslah berpositif thinking dan berimajinasilah.”

Ya..aku jatuh cinta pada film. Film membuatku bisa berdiam diri lama-lama untuk mengkhayalkan apa yang inginku khayalkan. Setelah berkhayal aku tuangkan dalam film dan wusss…datanglah uang. Sungguh mengasyikkan. Namun,  banyak orang hanya memandang sebelah mata pada bidang ini. Mereka sedikit banyak mempengaruhi ku untuk meninggalkan film, karena menurut mereka bidang ini tidak terlalu menjanjikan. Namun aku tidak menemukan kesenangan selain yang aku temukan di film. Dengan bergelut dibidang film ini aku bisa melakukan apa yang aku suka, berimajinasi secara liar dan tentu saja tetap berpositif thinking.

“Kita ini agent of change jadi jangan ragu untuk membuat gebrakan baru”

Film menurutku adalah kreativitas.  Kreativitas adalah kebebasan dan gebrakan baru. Anak-anak muda yang sekarang ini sudah harus ditanamkan untuk lebih mengasah kreativitasnya. Kreativitas berarti efisiensi. Kita harus bisa menghasilakan suatu karya yang membanggakan tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah atau sponsor. Indonesia sebenarnya sudah terbiasa hidup dengan pas-pasan, tertindas, bahkan sudah pernah mengalami korban penjajahan selama 350 tahun dan sampai sekarang masih bisa survive karena  sebenarnya bangsa kita adalah bangsa yang kreatif,  kreatif bila dalam keadaan terdesak. Semakin terdesak semakin muncul ide-ide untuk keluar dari lubang jarum. Oleh karena itu kia harus bisa memanfaatkan keadaan yang terdesak ini untuk menghasilkan suatu mahakarya.

Aku yakin suatu saat nanti, yah 10 tahun lagilah, Indonesia akan seperti Perancis yang kita tau mereka adalah Negara yang sangat menghargai dan mengapresiasi karya anak bangsanya. Pada saat itu warga Indonesia sudah mulai sadar tentang kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Orang-orang khususnya para pemuda mulai melestarikan budaya dan warisan dari para leluhur, mulai dari film-film jaman dahulu, budaya daerah, dan cerita-cerita rakyat. Dan manusia di Indonesia mulai menanamkan rasa perjuangan dan usaha untuk mencapai impian,  tidak seperti sekarang yang mau segalanya secara instan. Orang Indonesia juga harus mengalahkan rasa egois dan menghargai orang lain. Teamwork dalam hal ini sangat penting. Seorang pelukis saja tidak bisa menghasilakan lukisan yang sebegitu bagusnya tanpa pembuat kanvas, pembuat catnya dan model yang bersedia “bugil” untuk dilukis. Begitu juga dalam film, saya saja untuk menghasilakan suatu film harus bekerjasama dengan berbagai kalangan. “Dalam movie director misalnya, aku harus memberikan beberapa bagian untuk dikerjakan orang lain, aku memberikan ideku mau dibuat seperti apa film ini nantinya. Semua itu perlu teamwork.” Indonesia tidak lagi egois dengan hanya memikirkan kepentingan pribadi atau kalangan, semuanya bisa bekerjasama dengan baik untuk meraih mimpi bersama.

Wawancaraku dengan Dennis Adishwara J

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog Stats

  • 1,860 hits