Pecutan Sang Guru

image

Pagi itu kelas pertama ku di semester empat. Aku yang dari awal masuk psikologi sudah terdoktrin oleh mamaku untuk mengambil majoring Psikologi Industri pun akhirnya mengambil peminatan psikologi industri dan organisasi. Mata kuliah PIO yang pertama aku ambil adalah Teori Organisasi. Aku pun ingat betul, banyak kakak tingkatku yang akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil majoring PIO atau bahkan pindah peminatan karena satu alasan,

“Dosen-dosennya killer” kata mereka. Tapi disitu aku malah penasaran. Apa yang membuat mereka sebegitu takutnya. Sejenis monster kah yang mengajar di  PIO? Atau seperti masuk ke dalam gua yang gelap gulita kah sampai banyak dari anak majoring PIO yang susah lulusnya?  

Aku hanya anak baru dan pernah beberapa kali mengambil mata kuliah PIO dasar dan asas-asas Menejemen, dan dosen-dosen yang mengajarkan mata kuliah itu semuanya menurutku baik. Singkatnya dalam pandanganku semua dosen psikologi menenangkan hati. Tidak ada satu dari mereka yang terlihat seperti “pembunuh”. Sampai aku bertemu dengan sosok Pak Ino di kelas TO. Ooo…jadi ini yang semua orang ceritakan. Jadi bapak ini yang dinilai banyak anak sebagai singa di dalam hutan PIO.

Beliau orang yang mudah untuk di deskripsikan. Mudah saja aku tebak kalau dia keturunan Tionghoa dengan badan agak besar, mata sipit, berkaca mata, dan selalu ada rokok ditangan kanannya. Terlihat sekali bahwa dia orang yang keras dari cara ia memandang dan melontarkan pendapatnya. Interaksi pertamaku adalah saat aku masuk kelas Teori Industri. Kelas yang digunakan itu adalah ruang sidang skripsi dengan disain tempat duduk berbentuk U. Di setiap semesternya tidak banyak anak yang mengambil mata kuliah itu. Paling banyak hanya sekitar 20 orang. Pertama aku masuk, Pak Ino membacakan absensi satu persatu dan selalu memberikan komentar pada tiap anak yang dipanggilnya. Komentarnya banyak yang lucu, banyak juga yang vulgar

“kamu kalo nganggur dikos ngapain aja, Ki? Ngga main ke Doli ta?”. Saat Pak Ino memanggil salah satu anak yang berbadan agak seksi. Sontak sekelas itu langsung tertawa.  

“kamu sudah pernah ciuman berapa kali? kalo pacaran belum pernah ciuman wes putus ae, golek maneh” (kalau belum pernah ciuman lebih baik putus aja, cari lagi)”. Candaan lain yang ia lontarkan ke anak lainnya.

Ya..  komentar-komentar beliau yang mengejutkan itu yang membuat aku agak taku dan deg-degan, komentar apa yang akan beliau keluarkan saat memanggil namaku.

“Ngapain kamu ko mukamu kayanya takut sekali, saya ngga gigit ko cuma ya hati-hati saja” komentar itu keluar saat ia melihatku sambil tersenyum dan tertawa khasnya Pak Ino (ah senyum khas beliau ini yang selalu membuat aku menitikkan air mata sampai sekarang). Sejak saat itu aku janji pada diri sendiri untuk lebih berani, aktif dan banyak membaca agar bapak nggak menilai saya sebagai penakut lagi. Selesai membacakan absen, Pak Ino dengan tegas mengatakan bahwa di kelas ini tidak ada power point dan jangan harap kamu hanya membaca power point saat ujian nanti.

“Kalian ini mau jadi calon Psikolog, iku abot lho jenengmu (nama kalian itu jadi berat). jangan sampai lulusan Unair Cuma jadi sarjana Power point.”

Dan benar saja, di kelas itu aku tidak pernah sekali pun membaca power point atau membacanya saat mau ujian. Menurut beliau sarjana itu bacaannya buku, jurnal penelitian dan kami harus membiasakan diri untuk membaca buku-buku bahasa inggris yang tebalnya melebihi  novel Harry Potter ke lima. Pak Ino juga menjadwalkan kuis lisan setiap minggunya dan apabila dalam satu semester itu tidak lulus kuis sebanyak 3 kali maka anak tersebut dinyatakan tidak lulus dalam mata kuliah itu. Tidak tanggung-tanggung, materi untuk kuis bisa 2 sampai 4 chapter berbahasa Inggris. Sampai mengulang mata kuliahnya Pak Ino 2 sampai 4 kali pun menjadi hal yang lumrah. Kata beliau membaca buku bahasa Inggris membiasakan kita kalau nanti kuliah di luar negri, jadi sudah ngga gelegapan jadi ngga dibodohin terus. Pak Ino juga sering bercerita pengalamannya dulu sewaktu kuliah di Amerika. Anak-anak disana semuanya gemar baca buku, di taman, di perpustakaan, bahkan sambil makan siang mereka pun membaca. Tapi beda dengan yang beliau lihat disini, anak-anak Indonesia katanya kurang semangatnya untuk membaca. Contohnya saja anak kuliah.

“Coba berapa buku yang habis kamu baca sampai kamu lulus jadi sarjana?” ia bertanya satu per satu ke setiap anak. Banyak dari kami hanya menjawab 4 sampai 6 buku dan paling banyak mungkin hanya 10. Hal ini yang membuat ia sangat gregetan.
“Kalau ngga baca, kalian itu akan dibodohi terus rek sama orang luar dan bisa jadi budak di negri sendiri “ kata beliau.

Semangat belajar dan membaca ini lah yang terus ia tanamkan ke semua anak mahasiswanya. Dengan cara lembut, keras, kadang sampai memaki-maki. Itu semua ia lakukan karena ia terlalu ingin anak-anaknya ngga bodoh. Bagi sebagian mahasiswa yang tidak suka caranya mungkin akan merasa kesal dengan peraturan-peraturan yang ia terapkan. Dengan cekokan beliau akan pentingnya membaca dan mengerti esesni apa yang terkandung di suatu bacaan. Belum lagi mengenai hukuman saat tidak bisa memecahkan pertanyaan beliau. Dan semua ini dilakukan tak lain hanya untuk kebaikan anak-anaknya semata.

“Minimal satu bulan itu kalian harus baca satu buku lah. Ngga malu kamu katanya sarjana tapi planga-plongo”

Dari situ aku mulai membiasakan diri untuk membeli satu buku per bulan sampai sekarang. Setidaknya membeli itu sudah terlaksanakan, semoga nantinya semua buku bisa dibaca sampai habis seperti kata Pak Ino.

Saat aku sudah menyelesaikan kuliahku, aku selalu ingat pesan dan kesan saat bersama beliau. Saat itu aku bahkan rindu omelan beliau, rindu saat ia tertawa lepas di kelas, di kantin, saat ia mengejek dengan caranya yang tak terduga bagiku. Pak Ino tidak hanya mendidik perkara membaca. Saat berdiskusi tak jarang ia memberikan siratan lewat komentarnya soal maraknya korupsi atau banyaknya profesor yang berijasah palsu.

“Mereka itu korupsi karena dulu lulusnya mbayar. Ndak punya integritas ko dipilih. Kamu jangan gitu lho dian”

Di lain hari saat kami sedang praktek MSDM, Pak Ino menyempatkan liat ke stand kami. Saat itu aku jualan sate kelinci. Disitu aku dihina abis-abisan oleh beliau. “Dian kamu motong daging aja ngga bisa, motong bawang ko gitu caranya. Coba saya lihat tangan kamu. Ko halus? Kamu pasti ngga bisa masak. Perempuan ko ngga bisa masak. Belajar sana!” aku hanya bisa ketawa-ketawa.

Dari Pak Ino lah aku belajar banyak hal. Pak Ino adalah guru terbesar yang pernah dimiliki kampus kami. Dengan hanya bertitle S2 tapi beliau seperti profesor bagi kami, beliau tidak pernah memusingkan untuk sekolah S3 dan menjadi profesor. Passionnya hanya mengajar. Ia tidak mau hanya mengejar title. Tidak mau melakukan penelitian untuk S3nya hanya demi kenaikan pagkat.

“Dan kalau saya kuliah nanti saya ngga ngajar, kalian nanti banyak yang lulus, hahaha” lagi-lagi tawa khasnya beliau.

Pak Ino bukan hanya mengajarkan tapi mendidik.

Sekarang raganya sudah tak bersama kita lagi. Selamat jalan sumber inspirasi, yang mengajarkan ku arti kedisiplinan, teguh pada prinsip hidup, dan jangan berhenti baca.

Semua orang sangat merasa kehilanganmu, tapi aku yakin semangat dan inspirasimu akan tetap mengalir.  

Blog Stats

  • 1,860 hits