a. r. i. a

Pada mata itu aku terikat
Tak ayalnya aku bisa lepaskan jeratan
Menelanku lebih dalam
Menggiringku ke alam baru yang mempesona
Tak kuasa aku melarikan diri darinya
Tak inginku pergi tanpa sinarnya

Di senyum itu aku terperanjat
Seketika luruh segala gundah
Beribu amarah terpaksa hilang
Semua kacau kuusir sudah
Tak lagi kurasa dendam
Sedihnya pun kutendang jauh

Lagi-lagi di sana
Di hati tulus yang mendebarkan dan mengganggu akal sehatku
Mengapa ia datang
Hanya jika ingin membuatku gila
Berjalan dengan rasa cita
Yang sudah lama aku minta dengan iba pada sang Kuasa

Beribu kata sepertinya tak lagi ada guna
Hanya terima kasih sudah mengisi kesendirianku
Berjalan bersamaku
Menjadi pelipur laraku
Jadi sinar setelah lorong panjang dan gelap yang telah kulaui
Berkah disaat aku lelah mencari

Doa singkat kupanjatkan selepas ku menghadapNya
Semoga kita selalu menjadi kita
Agar cinta senantiasa mendampingi
Menuntun pada garis akhir tujuan hidup kita
Lalui ini dengan suka
Bergandengan tangan kita menghadapi dunia

Katakan.. Kita lebih kuat dari semua
Tantang yang menghalangi
Buktikan kasih selalu menang

Jaga hati ini dengan seksama, cinta

tersederhana, disebut keyakinan

Aku percaya yang aku mampu.
Melupakan semua kisah silam
Yang terlalu pahit untuk disimpan,
Yang terlalu sedih untuk ditangisi,
Dan terlalu jahil untuk diakui.
Walaupun tersimpan di ruang paling dalam,
Walaupun kerapkali menerjah di ingatan,
Segera aku berbisik.
Bahawa aku yakin!
Aku percaya Allah akan membantuku,
Menyembuhkanku perlahan-
lahan,
Hingga tidak sedikitpun hati ini terkesan pada luka-luka semalam.
Hingga jiwa sedikitpun tak tergugat pada kata-kata orang,
Agar bibir mudah tersenyum secerah mentari di waktu siang,
Agar hati lebih tenang seterang bintang di waktu malam.
Agar hati mudah berpihak pada PENCIPTA.
Aku yakin begitu.

(penulisbuta)

image

https://mobile.twitter.com/puszarista

Pecutan Sang Guru

image

Pagi itu kelas pertama ku di semester empat. Aku yang dari awal masuk psikologi sudah terdoktrin oleh mamaku untuk mengambil majoring Psikologi Industri pun akhirnya mengambil peminatan psikologi industri dan organisasi. Mata kuliah PIO yang pertama aku ambil adalah Teori Organisasi. Aku pun ingat betul, banyak kakak tingkatku yang akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil majoring PIO atau bahkan pindah peminatan karena satu alasan,

“Dosen-dosennya killer” kata mereka. Tapi disitu aku malah penasaran. Apa yang membuat mereka sebegitu takutnya. Sejenis monster kah yang mengajar di  PIO? Atau seperti masuk ke dalam gua yang gelap gulita kah sampai banyak dari anak majoring PIO yang susah lulusnya?  

Aku hanya anak baru dan pernah beberapa kali mengambil mata kuliah PIO dasar dan asas-asas Menejemen, dan dosen-dosen yang mengajarkan mata kuliah itu semuanya menurutku baik. Singkatnya dalam pandanganku semua dosen psikologi menenangkan hati. Tidak ada satu dari mereka yang terlihat seperti “pembunuh”. Sampai aku bertemu dengan sosok Pak Ino di kelas TO. Ooo…jadi ini yang semua orang ceritakan. Jadi bapak ini yang dinilai banyak anak sebagai singa di dalam hutan PIO.

Beliau orang yang mudah untuk di deskripsikan. Mudah saja aku tebak kalau dia keturunan Tionghoa dengan badan agak besar, mata sipit, berkaca mata, dan selalu ada rokok ditangan kanannya. Terlihat sekali bahwa dia orang yang keras dari cara ia memandang dan melontarkan pendapatnya. Interaksi pertamaku adalah saat aku masuk kelas Teori Industri. Kelas yang digunakan itu adalah ruang sidang skripsi dengan disain tempat duduk berbentuk U. Di setiap semesternya tidak banyak anak yang mengambil mata kuliah itu. Paling banyak hanya sekitar 20 orang. Pertama aku masuk, Pak Ino membacakan absensi satu persatu dan selalu memberikan komentar pada tiap anak yang dipanggilnya. Komentarnya banyak yang lucu, banyak juga yang vulgar

“kamu kalo nganggur dikos ngapain aja, Ki? Ngga main ke Doli ta?”. Saat Pak Ino memanggil salah satu anak yang berbadan agak seksi. Sontak sekelas itu langsung tertawa.  

“kamu sudah pernah ciuman berapa kali? kalo pacaran belum pernah ciuman wes putus ae, golek maneh” (kalau belum pernah ciuman lebih baik putus aja, cari lagi)”. Candaan lain yang ia lontarkan ke anak lainnya.

Ya..  komentar-komentar beliau yang mengejutkan itu yang membuat aku agak taku dan deg-degan, komentar apa yang akan beliau keluarkan saat memanggil namaku.

“Ngapain kamu ko mukamu kayanya takut sekali, saya ngga gigit ko cuma ya hati-hati saja” komentar itu keluar saat ia melihatku sambil tersenyum dan tertawa khasnya Pak Ino (ah senyum khas beliau ini yang selalu membuat aku menitikkan air mata sampai sekarang). Sejak saat itu aku janji pada diri sendiri untuk lebih berani, aktif dan banyak membaca agar bapak nggak menilai saya sebagai penakut lagi. Selesai membacakan absen, Pak Ino dengan tegas mengatakan bahwa di kelas ini tidak ada power point dan jangan harap kamu hanya membaca power point saat ujian nanti.

“Kalian ini mau jadi calon Psikolog, iku abot lho jenengmu (nama kalian itu jadi berat). jangan sampai lulusan Unair Cuma jadi sarjana Power point.”

Dan benar saja, di kelas itu aku tidak pernah sekali pun membaca power point atau membacanya saat mau ujian. Menurut beliau sarjana itu bacaannya buku, jurnal penelitian dan kami harus membiasakan diri untuk membaca buku-buku bahasa inggris yang tebalnya melebihi  novel Harry Potter ke lima. Pak Ino juga menjadwalkan kuis lisan setiap minggunya dan apabila dalam satu semester itu tidak lulus kuis sebanyak 3 kali maka anak tersebut dinyatakan tidak lulus dalam mata kuliah itu. Tidak tanggung-tanggung, materi untuk kuis bisa 2 sampai 4 chapter berbahasa Inggris. Sampai mengulang mata kuliahnya Pak Ino 2 sampai 4 kali pun menjadi hal yang lumrah. Kata beliau membaca buku bahasa Inggris membiasakan kita kalau nanti kuliah di luar negri, jadi sudah ngga gelegapan jadi ngga dibodohin terus. Pak Ino juga sering bercerita pengalamannya dulu sewaktu kuliah di Amerika. Anak-anak disana semuanya gemar baca buku, di taman, di perpustakaan, bahkan sambil makan siang mereka pun membaca. Tapi beda dengan yang beliau lihat disini, anak-anak Indonesia katanya kurang semangatnya untuk membaca. Contohnya saja anak kuliah.

“Coba berapa buku yang habis kamu baca sampai kamu lulus jadi sarjana?” ia bertanya satu per satu ke setiap anak. Banyak dari kami hanya menjawab 4 sampai 6 buku dan paling banyak mungkin hanya 10. Hal ini yang membuat ia sangat gregetan.
“Kalau ngga baca, kalian itu akan dibodohi terus rek sama orang luar dan bisa jadi budak di negri sendiri “ kata beliau.

Semangat belajar dan membaca ini lah yang terus ia tanamkan ke semua anak mahasiswanya. Dengan cara lembut, keras, kadang sampai memaki-maki. Itu semua ia lakukan karena ia terlalu ingin anak-anaknya ngga bodoh. Bagi sebagian mahasiswa yang tidak suka caranya mungkin akan merasa kesal dengan peraturan-peraturan yang ia terapkan. Dengan cekokan beliau akan pentingnya membaca dan mengerti esesni apa yang terkandung di suatu bacaan. Belum lagi mengenai hukuman saat tidak bisa memecahkan pertanyaan beliau. Dan semua ini dilakukan tak lain hanya untuk kebaikan anak-anaknya semata.

“Minimal satu bulan itu kalian harus baca satu buku lah. Ngga malu kamu katanya sarjana tapi planga-plongo”

Dari situ aku mulai membiasakan diri untuk membeli satu buku per bulan sampai sekarang. Setidaknya membeli itu sudah terlaksanakan, semoga nantinya semua buku bisa dibaca sampai habis seperti kata Pak Ino.

Saat aku sudah menyelesaikan kuliahku, aku selalu ingat pesan dan kesan saat bersama beliau. Saat itu aku bahkan rindu omelan beliau, rindu saat ia tertawa lepas di kelas, di kantin, saat ia mengejek dengan caranya yang tak terduga bagiku. Pak Ino tidak hanya mendidik perkara membaca. Saat berdiskusi tak jarang ia memberikan siratan lewat komentarnya soal maraknya korupsi atau banyaknya profesor yang berijasah palsu.

“Mereka itu korupsi karena dulu lulusnya mbayar. Ndak punya integritas ko dipilih. Kamu jangan gitu lho dian”

Di lain hari saat kami sedang praktek MSDM, Pak Ino menyempatkan liat ke stand kami. Saat itu aku jualan sate kelinci. Disitu aku dihina abis-abisan oleh beliau. “Dian kamu motong daging aja ngga bisa, motong bawang ko gitu caranya. Coba saya lihat tangan kamu. Ko halus? Kamu pasti ngga bisa masak. Perempuan ko ngga bisa masak. Belajar sana!” aku hanya bisa ketawa-ketawa.

Dari Pak Ino lah aku belajar banyak hal. Pak Ino adalah guru terbesar yang pernah dimiliki kampus kami. Dengan hanya bertitle S2 tapi beliau seperti profesor bagi kami, beliau tidak pernah memusingkan untuk sekolah S3 dan menjadi profesor. Passionnya hanya mengajar. Ia tidak mau hanya mengejar title. Tidak mau melakukan penelitian untuk S3nya hanya demi kenaikan pagkat.

“Dan kalau saya kuliah nanti saya ngga ngajar, kalian nanti banyak yang lulus, hahaha” lagi-lagi tawa khasnya beliau.

Pak Ino bukan hanya mengajarkan tapi mendidik.

Sekarang raganya sudah tak bersama kita lagi. Selamat jalan sumber inspirasi, yang mengajarkan ku arti kedisiplinan, teguh pada prinsip hidup, dan jangan berhenti baca.

Semua orang sangat merasa kehilanganmu, tapi aku yakin semangat dan inspirasimu akan tetap mengalir.  

learning to be a learner

Wah selamat ya buat adik-adik yang sudah lulus dan telah melalui proses selama 3 tahun di senior high school. Masa itu adalah masa yang paling menarik, aku sendiri merasakannya. Masa dimana kita bertemu teman, sahabat, bahkan pacar. Saat yang nantinya pasti kita akan rindukan atau terkadang kita berkhayal untuk kembali ke masa itu. Tapi di depan masih ada jalan panjang terbentang. Pintu baru yang sebentar lagi akan kalian masuki. Yap bener..masa kuliah. Masa ini ngga kalah seru dengan masa SMA. Akan ada banyak sekali tantangan dan dinamika yang bergejolak dan kamu akan rasakan sendiri banyak pelajaran berharga (kalau mau belajar). Ngomong-ngomong soal belajar, apa sih makna belajar menurut kamu? Mungkin ada banyak orang yang bilang kalau belajar sama dengan mengetahui sesuatu yang baru atau bahkan yang lebih sadis, belajar itu ya sama aja kaya sekolah. Jadi anak yang pintar dan belajar adalah anak yang dapat nilai bagus di sekolahnya. Hmmmm…is that wrong? Menurutku ngga juga. Belajar menurutku itu bagaimana perilaku seseorang berubah jadi lebih baik dan hasil dari belajar ngga semata bisa diukur dengan angka. Angka yang didapat dari sekolah hanya simbol dan diberikan untuk mempermudah dalam membaca. Tapi banyak orang yang hanya menelan mentah-mentah simbol tersebut tanpa mencari tau lebih dalam. Anak dengan nilai 5 misalnya langsung di cap sebagai anak malas yang ngga belajar. Padahal banyak faktor yang menyebabkan nilai itu.

Awalnya aku sangat terobsesi dengan angka, semuanya harus perfect. Aku selalu masuk dan jarang absen untuk pelajaran atau mata kuliah penting. Semua tugas aku kerjakan dengan sungguh-sungguh dan aku belajar mati-matian saat ada ujian. Aku menelan mentah-mentah semua proses belajarku. Aku tidak memaknai belajar itu sendiri. Hasilnya yaa nilaiku keluar dan semua sesuai harapan. Ada suatu ketika nilaiku turun dan aku sangat sedih, aku menilai diriku tidak belajar dan hanya main-main dengan kegiatan diluar akademik. Aku berusaha lagi. Benar saja nilaiku naik, tapi sejak saat itu waktuku dengan teman baikku lenyap, aku paling tidak tau informasi apa yang sedang hangat, aku tidak bisa mengontrol emosiku, lebih banyak di kamar mengerjakan tugas-tugas tanpa mau berbagi dengan yang lain. Ya aku belajar…tapi maknanya hanya sebatas NILAI. Setalah semua nilaiku keluar aku berpikir. Untuk apa nilai-nilai ini. Apa esensinya buatku? Akankah aku bawa kemana-mana kertas lembaran ini? mungkin jika aku melamar kerja, kertas ini hanya akan berhenti di meja administrasi. Apa yang harus aku tunjukkan untuk mempertanggung jawabkan semua tulisan yang tercetak di kertas ini? aku pun berpikir dengan keras. Kertas dan tulisan di dalamnya sangat penting, tapi jauh lebih penting maknanya. Buat apa punya nilai tinggi, selalu masuk kelas, lulus lebih awal, atau punya jabatan penting tapi tau makna belajar dan tidak bermanfaat untuk orang disekitarnya? Belajar bukan semata untuk nilai. Bagaimana ilmu itu dimanfaatkan lebih penting, tentang bagaimana kita menyesuaikan diri, membantu orang lain, dan membermanfaatkan diri. Nilai dan waktu adalah konsekuensi. belajar mungkin akan menghabiskan waktu tapi impactnya yang harus diresapi. Bukan hanya teori. Setiap waktu adalah proses belajar. Upaya untuk jadi diri lebih baik dan percaya diri adalah hasil yang paling memuaskan dibanding sekedar simbol nilai. Manfaatkan segala daya, upaya, dan waktu untuk belajar dari sekelilingmu.  Karena disitulah wahana terbesar untukmu belajar.

glory of PSYCHOFEST 2010

Missing this moment so much. The hard work, preasure, the trustworthy, coordinate, cry, sad, dissapointed, fun, laugh, and feeling down and up together.

liberty


Buat apa kita bertanya tentang makna dari kebebasan kalau kita hanya diam dan tidak pernah melakukan sesuatu untuk kebebasan itu. Setiap langkah kita adalah tapak untuk sampai pada mimpi kita. Dengan apa kita bisa dapatkan semua mimpi selain dengan rasa bebas. Kebebasan adalah kunci dari segalanya. Eksistensi kita ada karena kebebasan. Pertahanan kita sampai saat ini didapat dari berpikir melalui kebebasan. Kata Socrates manusia ada karena berpikir. Pikirkan semua terlebih dahulu, atur langkah sebagai orang yang memiliki pengetahuan baik dan percayakan pada diri bahwa semuanya dapat kita raih. Ingatlah bahwa pikiran kita memegang peranan yang segnifikan. Ciptakan sesuatu yang pikiran kita yakin bahwa kita dapat melakukan itu. Hal apapun dapat kita raih. Pikiran kita memotivasi agar kita melakukan yang terbaik, tapi ingat bahwa berpikir adalah cabang dari kebebasan. Buat apa berpikir tentang macam-macam apabila kebebasan saja tidak ada. Dapatkan kebebasan manusia seutuhnya. Itu adalah hakiki.

tik tok…tik toook

mungkin rasa penyesalan itu tidak akan ada habisnya, apalagi melihat titik air itu jatuh dari mata sang idola. Tapi untuk apa, ini hanya tertundanya sebuah kemenangan. Ini bukan sebuah musibah atau penghalang bagi semua untuk tetap berkarya.  Ini juga bukan sebuah alasan untuk saling menuding salah siapa. Aku yakin mereka semua tidak sekedar mencari populaitas atau kejayaan, tapi mental juaralah yang harus dibangun. Sebuah perubahan harus terjadi. Hanya orang konvensional yang tidak ingin adanya perubahan. Dan aku yakin Samba akan berdansa pada waktunya

this colors remind ME

This slideshow requires JavaScript.

A heart voice..

Mencari data untuk aku olah menjadi sebuah tugas adalah petualangan. Bukan apa-apa, karena isi laptopku ini seperti tong sampah, semua tercampur dan banyak sekali data-data yang tidak terpakai bahkan tidak penting pun tetap tersimpan di tempat yang tidak semestinya. Aku yang saat itu sedang melakukan pencarian data untuk mata kuliah Kompetensi dalam Kerja harus membuka file-fileku satu per satu. Ohh Gosshh, it wasting so much time!! Sampai pada suatu file video. Biasanya aku menyimpan file video lagu dan film yang aku dapat dari teman atau download di youtube pada file video ini. Aku pun tiba-tiba penasaran dan ingin sekali melihat isinya. Dan akhirnya aku putuskan untuk membuka file ini. Membaca judulnya satu persatu membuat mataku harus berada lebih dekat dengan laptop dan ini sukses membuatku jereng seketika. Sampai pada satu judul dan aku pun menghentikan pencarianku. Video Lentera jiwa by Nugie. Aku lupa kalau aku pernah menyimpan video ini. Tak berpikir lama dan sedikit mengabaikan tugas kuliahku, aku pun langsung memainkan video sexy ini. More

love my earth

Previous Older Entries

Blog Stats

  • 1,811 hits